AHLAN WA SAHLAN BI HUDHUURIKUM

SESUNGGUHNYA ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA. JALAN KEHIDUPAN MANUSIA DARI DUNIA MENUJU ALLAH SWT, RAHMAT DAN SURGANYA. RASULULLAH SAW ADALAH PEMANDU DAN PEMBIMBINGNYA.

Jumat, 24 Desember 2010

Hijrah… Sebagai Manhaj untuk Membangun Umat; Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif

ismillah, was sholatu was salam ala Rasulillah wa man waalaah, selanjutnya… Kita menyambut tahun baru hijriah yang memiliki banyak kabar gembira yang meliputi kita…
Betapa kita butuh pada hari ini memiliki azzam dan kesungguhan untuk mengembalikan kemuliaan dengan semangat dan keteguhan jiwa!! Betapa kita butuh pada hari ini – sementara umat pada saat ini sudah menjadi pengekor bagi musuh-musuhnya – memulai langkah-langkah baru untuk membangunnya kembali!! Dan tahun baru hijrah datang dengan kesaksian-kesaksiannya dan peristiwa-peristiwanya merupakan sebuah manhaj yang memberikan ilham kepada para mukhlisin akan sebuah pondasi bangunan; bahwa hijrah merupakan perpindahan dari fase kesabaran terhadap siksaan di kota Mekkah menuju fase kesabaran terhadap dakwah dan pergerakan dalam risalah Islam. Hijrah dari fase keimanan dan pembinaan individual menuju fase pembangunan masyarakat dan pembentukan umat dengan syariat Allah SWT.
Pembentukan tersebut yang dimulai pada awalnya dengan keimanan yang benar dan kerja yang tiada henti “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Baqoroh: 218). Bukan berarti lari dan menghindar dari penghadangan (berhadapan dengan musuh), namun merupakan pemisahan antara kebenaran dan kebatilan dengan cara mujahadah (sungguh-sungguh), mengerahkan tenaga dan jiwa dan tadhiyah (pengorbanan), untuk mempersiapkan taktik lain dalam menghadapinya, karena itu Allah menyamakannya dengan jihad di jalan Allah.
Sungguh langkah dan strategi ini tidak akan sukses kecuali dengan mengikuti metode hijrah dan adanya perasaan kebersamaan dengan Allah, tsiqoh yang sempurna akan kemenangan Allah di masa mendatang: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita” (At-taubah: 40).
Dan pertolongan Allah bergantung pada apa yang dihadirkan oleh para generasi umat melalui pengorbanan dengan segala apa yang dimiliki, sekalipun makar dan persekongkolan mengelilingi mereka; disaat mereka menghiasi diri dengan keinginan yang kuat dan semangat yang tinggi; karena Allah berkuasa atas segala perkaranya… “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya” (Al-Anfal: 30).
Adapun kita, memiliki hijrah yang sebenarnya?!
Hijrah dari kondisi yang lemah menuju penyerahan diri kepada Allah, hijrah dari kehinaan menuju kemuliaan untuk bergerak di jalan iman, hijrah dari kemalasan menuju kesungguhan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, hijrah dari kemunduruan yang menghinakan menuju kemajuan dan kemuliaan; sehingga terwujud manhaj hijrah tersebut dalam membina generasi pemuda belia pemberani seperti Imam Ali RA, pemuda yang berani seperti sikap Abdullah bin Abu Bakar, lelaki yang berani berkorban seperti Suhaib, wanita yang punya peran aktif dalam risalah seperti pemilik dua selendang (dzatu nithoqoin), keluarga yang taat seperti sikap keluarga Abu Salamah dan jamaah yang memiliki strategi dan persiapan dan membentuk manusia untuk berkorban dan bekerja di jalan Allah.
Dari situlah cahaya umat akan memancar kembali; jika terwujud hijrah yang sebenarnya; hijrah dari kedzaliman menuju keadilan, dari kedzaliman menuju persamaan, dari penindasan menuju kebebasan, dari kehinaan menuju kemuliaan, dari kenistaan menuju keperkasaan, yang dengannya dapat mengeluarkan diri dari mengekor pada proyek Zionis Amerika – yang telah membebani umat dengan banyak hutang – menuju kesempurnaan ajaran Islam dan ekonomi saling tolong menolong, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW dengan membangun pasar Islam setelah hijrah, menghapus pengangguran dan mendirikan bangunan ekonomi kebersamaan; sehingga tidak ada kefakiran, tidak ada cara, tidak ada alasan dan tidak ada hijrah bagi setiap pemuda untuk lari dari kemiskinan menuju kematian!!
Hijrah dari kondisi lemah dan kekuasaan politik yang meninda dan dzalim menuju meningkatnya keinginan yang kuat untuk membangun peradaban yang integral, terikat hubungan kemanusiaannya dengan Allah yang menguasai langit dan bumi, sehingga dapat menghindar dari buruknya lari dari perang dan perseteruan buta, jahatnya pembunuhan dan kekerasan, dan kejamnya perampasan dan pelecehan hak.
Hijrah yang dapat meningkatnya umat dari kesemrawutan dan perpecahan menuju umat yang satu, diawali dari hijrah dalam piagam madinah yang ditulis oleh Nabi SAW seperti: “inilah tulisan dari Muhammad sang nabi antara orang-orang yang beriman, kaum muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, dan orang-orang yang mengikuti dan menyertai mereka serta berjuang bersama mereka.. mereka adalah umat yang satu dari seluruh manusia”.
Marilah kita bangkit; karena hal tersebut tidaklah sulit
Betapa kita saat ini membutuhkan untuk bangkit seperti bangkitnya umat dahulu; membawa tauhid yang murni yang dipersenjatai dengan ilmu yang tinggi, mengikuti warisan para nabi, menyeru dengan cara dialog dan methode yang baik!!
Kita jadikan Islam sebagai sistem kehidupan; baik ekonomi, politik, sosial dan militer, karena hal tersebut tidaklah sulit bagi umat yang memiliki sifat ini; Allah SWT berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron: 110), khususnya terhadap umat yang dijadikan oleh Allah umat yang adil. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (Al-Baqoroh: 143). Dan sungguh saya heran dengan kondisi umat saat ini yang mengalami hijrah terhadap akal dan wawasan mereka terutama generasi penerusnya untuk dimanfaatkan orang lain, dan menghalangi warganya untuk mendapatkan ilmu!!
Jadi, hijrah merupakan seruan membangun umat, mulai menaikkan posisinya – sekalipun kondisi yang menyedihkan -; dari kehancuran dan peperangan, pecah belah dan penjajahan; karena itu umat membutuhkan kita untuk berusaha yang tiada henti sehingga pertolongan Allah akan datang – dalam waktu dekat -: “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” (Al-Mu’min: 51) dan benarlah sabda Nabi SAW yang memberikan kabar gembira kepada kita hakikat ini:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadaku bumi maka aku melihat arah timur dan baratnya, dan sungguh umatku akan mencapai kerajaannya sebagaima yang telah ditampakkan kepadaku darinya”. (HR. Muslim)
Harapan yang harus diwujudkan ini oleh kita – sebagai individu, masyarakat dan pemerintahan – adalah;
1. Kita harus memiliki ketsiqohan walaupun krisis yang mendera begitu kuat, dan yakin bahwa kemenangan umat tidak mustahil.
2. Setiap individu hendaknya bertanya pada dirinya sendiri: Apa peran saya dalam pembangunan umat setelah terjadi kegagalan pada seluruh manhaj konvensional?! Khususnya di Negara-negara yang dibuatnya sebelum yang lainnya; dari sosialisme, fasisme dan kapitalisme, tidak ada manhaj bagi kita kecuali manhaj Islam dan merupakan satu-satunya proyek dalam membangun umat.

Bagaimana kita merealisasikan manhaj Islam
Jika kita ingin merealisasikan manhaj Islam maka kita harus memulai dari hijrah; mentauladani rasul; karena beliau merupakan tauladan kita; yaitu diawali dengan hijrahnya seseorang terusir dari kota Mekkah – Nabi SAW dan sahabatnya – dengan menghadirkan jiwa pengorbanan dan diakhiri dengan tamkin (kejayaan) terhadap risalah yang diemban oleh Nabi SAW; menuju risalah-risalah perbaikan terhadap raja-raja dan pemerintah lainnya yang ada dimuka bumi ini.
Jika kita ingin membangun umat atas dasar manhaj Islam maka kita harus memulai dari hijrah; dengan membentuk generasi seperti masa awal, berdasarkan pemahaman, kesadaran dan pengetahuan, baik laki-laki maupun perempuan “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath: 29). Generasi yang teguh dengan cinta, kokoh dengan persaudaraan (ukhuwah) “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan” (Al-Hasyr: 9). Dan generasi yang memenuhi janji dalam dakwahnya, mencintai kampungnya, yang selalu mengulang ungkapan Nabi SAW:

أَمَّا وَاللهِ إِنِّيْ لأَعْلَمُ أَنَّكِ خَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ الْأَرْضِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنَّ أَهْلَكِ أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah, sungguh aku sangat tahu bahwa engkau adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi yang paling dicintai kepada Allah, sekiranya jika wargamu tidak mengusirku darimu maka aku tidak akan keluar’

Saya berterus terang kepada kalian
Saya berterus terang kepada kalian bahwa pembangunan umat berawal pada:
1. Hijrah individual; (karena makna)

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“orang yang berhijrah adalah yang mampu menghijrahkan dirinya terhadap apa yang dilarang Allah” (HR. Bukhari) dari sinilah kita memulai sebuah perubahan; melalui taubat dan meninggalkan maksiat dan dosa;

لَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Tidak akan berhenti hijrah hingga berhenti taubat, dan tidak akan berhenti taubat hingga matahari terbit dari arah barat”. (HR. Abu Daud)
2. Hijrah secara jamaah dan Negara… yaitu berhijrah dari saling mencela dan mencaci, melakukan pembunuhan, kedzaliman, kebatilan dan segala yang dimurkai Allah; ketika Nabi SAW ditanya:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ

“Hijrah apakah yang paling utama wahai Rasulullah: beliau menjawab: hijrah dari apa yang dibenci Allah”.
Jika seluruh isi dunia melakukan hijrah kepada Allah – karena para nabi seluruhnya juga melakukan hijrah kepada Allah -, dan pada hari ini Zionis telah merampas negeri kita, berkorban dengan harta dan kedudukan mereka; dengan alasan “al-hijrah” namun untuk melakukan kerusakan, penjajahan dan perampasan, Amerika menjajah negeri kita untuk merampas kekayaan kita dan menguasai sumber daya kita.. apakah telah datang kepada kita saatnya hijrah kepada Allah secara hakiki, sehingga dapat kita umumkan dengan lantang: Hijrah kepada Allah untuk membebaskan negeri dan melawan serta menghadapi kedzaliman, kerusakan dan penindasan?!

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Maka barangsiapa yang hijrahnya (ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya dan wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan”.
Salawat dan salam atas nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat dan akhir doa kita adalah bahwa segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

Hikmah Hijrah Rasulullah SAW

Hijrah secara makna bahasa berasal dari kata hajara yang berarti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain[2], pindah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain[3], atau meninggalkan sesuatu[4].
Para ulama kemudian menyatakan bahwa dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW memiliki dua makna yang harus diaplikasikan dalam kehidupan kita, yaitu hijrah makani (hijrah dalam konteks fisik) dan hijrah ma’nawi (hijrah pada konteks non fisik).
Hijrah Makani
Jika kita melihat peristiwa Hijrah pada masa Rasulullah SAW, maka kejadian hijrah tersebut dilakukan sebanyak 3 kali: Hijrah yang pertama dilakukan oleh Nabi SAW adalah ke daerah Habasyah/Ethiopia pada th ke-5 bi’tsah (kenabian)[5], ke sebuah daerah diujung Utara Afrika. Para sahabat yang berangkat hijrah ke Habasyah ini bukan orang-orang yang lemah-lemah sebagaimana diperkirakan orang, sebaliknya mereka yang berangkat adalah para sahabat yang tinggi status sosialnya (Utsman ra, Ja’far ra, Abdurrahman bin Auf ra)[6]; bahkan jika kita jeli melihat kitab-kitab Sirah, maka para sahabat yang status sosialnya rendah tidak ikut (Bilal ra, Zaid ra, Yasir ra, Sumayyah ra, Yasir ra, dll). Mengapa demikian? Menurut DR al-Buthy hal ini dikarenakan bahwa sahabat yang kuat-kuat tersebut mulai tidak sabar dan mulai mengadakan perlawanan, padahal tahapannya belum sampai (ingat peristiwa perlawanan yang dilakukan oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ra). Hal di atas juga terlihat dengan pesan Nabi SAW, kepada Ja’far dan kawan-kawan saat akan berangkat: “Disana ada raja yang tidak menyakiti, bandingkan dengan perkataan Nabi SAW kepada para sahabat yang berangkat hijrah ke Madinah: “Allah sudah menyediakan bagi kalian ikhwan-ikhwan, rumah-rumah dan tempat bekerja.”[7]
Peristiwa hijrah yang kedua dilakukan ke Tha’if (di sebelah Tenggara Makkah)[8]. Peristiwa hijrah yang kedua dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW sendiri bersama sahabat Zaid bin Haritsah setelah wafatnya Khadijah ra dan Abu Thalib, dimana siksaan yang dilakukan pada diri Nabi SAW oleh kaum kafir semakin menjadi-jadi, sehingga beliau SAW merasa bahwa Makkah sudah tdk kondusif lagi bagi dakwah, mengapa Tha’if yang dipilih? Sebab yang pertama dikarenakan letaknya yang strategis dari Makkah (100 km), dan dalam perniagaan orang Makkah harus melewati Tha’if. Sebab yang lainnya karena orang Tha’if punya ‘izzah terhadap orang Makkah (berhala Latta sebagai saingan Hubal), sehingga orang Tha’if tidak mau taat pada orang Makkah, dan orang Makkah pun segan pada orang Tha’if. Sebab yang ketiga adalah karena Tha’if tidak pernah sekalipun terlibat peperangan melawan Nabi SAW, termasuk saat perang Ahzab; baru 1 bulan setelah Ramadhan fathu Makkah (Makkah ditaklukkan) orang Tha’if mulai bergerak memerangi Nabi SAW melalui peperangan Hunain[9]. Di Tha’if Nabi SAW hanya menemui 3 orang, tidak sebagaimana di Makkah, beliau SAW mengajak semua orang. Saat hijrah kedua ini beliau ditolak dakwahnya dan dilempari batu serta dianiaya, walaupun demikian saat akan pulang beliau SAW bertemu seorang budak Nasrani bernama Addas yang beriman kepada beliau SAW[10] demikian pula beriman segolongan Jin pada beliau SAW[11], lalu saat pulang ke Makkah beliau SAW meminta perlindungan kepada tokoh Quraisy bernama Muth’im bin Adi[12].
Peristiwa hijrah yang ketiga dilakukan oleh para sahabat ra dan Nabi SAW secara bergelombang ke Madinah (tahun 14 bi’tsah), yang diawali oleh Abu Salamah RA[13], kemudian diikuti kemudian oleh Mush’ab bin Umair RA[14]. Adapun hadits tentang Umar RA yang berhijrah secara terang-terangan di siang hari adalah dha’if maka tidak bisa digunakan sebagai hujjah[15], demikian pula hadits yang menyebutkan beliau SAW saat tiba di Madinah disambut dengan nasyid Thala’al Badru ‘Alayna juga dha’if sanadnya[16], sementara hadits tentang burung dara dan laba-laba yang menutupi pintu gua diperselisihkan sanadnya[17]. Pada saat tersebut Abu Bakar RA saat perjalanan setiap ditanya siapa temannya (Muhammad SAW) menjawab: Ia adalah penunjuk jalanku[18] (yang ia maksudkan penunjuk jalan kepada Islam), hadits ini juga menjelaskan bolehnya melakukan tauriyyah. Dalam kaitan pembahasan ini pula, perlu saya sampaikan bahwa peristiwa Hijrah Nabi SAW tidak terjadi pada bulan Muharram, melainkan berdasarkan hadits shahih terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal[19]. Namun demikian, karena bulan Islam ada 12 bulan[20] dan dimulai dari Muharram, maka penanggalan tahun Hijrah juga dimulai pada bulan Muharram tersebut.
Mengapa orang Madinah begitu mudah masuk Islam? Sebab yang pertama adalah karena interaksi mereka yang intens dengan Yahudi: Yahudi selalu mengancam akan memerangi mereka dengan Nabi yang akan diutus, dan ini berbekas dihati mereka, sehingga saat mendengar ada Nabi, mereka takut didahului oleh Yahudi dalam beriman kepada Nabi SAW. Sebab yang kedua adalah karena di Madinah tidak ada suku/kelompok yang dominan, selalu terjadi peperangan terus-menerus (100 tahun) antar suku yang ada, sehingga situasi kacau dan tidak solid.
Dari peristiwa hijrah makani yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di atas kita mendapatkan pelajaran yang dapat kita ambil dan laksanakan di antaranya adalah:
1. Bahwa wajib bagi setiap muslim untuk berusaha mengubah kemunkaran sekuat tenaganya, dan jika ia tidak mampu maka hendaknya ia meninggalkan tempat kemunkaran itu dan tidak berdiam di tempat kemunkaran/kemaksiatan tersebut. Tetapi selama usaha perubahan masih dapat dilakukan walaupun sedikit demi sedikit, maka tidak mengapa ia berdiam di sana sambil terus mengupayakan ishlah hal ini juga berlaku di pemerintahan[21].
2. Bahwa betapa rapinya Nabi SAW dalam merancang dan membuat “program” dakwah, walaupun dakwah ini akan ditolong oleh Allah SAW (In tanshurullaha yanshurkum …), dan beliau SAW adalah seorang Nabi yang dijamin takkan dicelakai dan takkan dapat dikalahkan (wallahu ya’shimuka minan nas …) tetapi beliau SAW tetap menjalani semua sunnatullah dalam keberhasilan dakwahnya sebagaimana manusia biasa lainnya.
3. Bahwa sebagai seorang aktifis dakwah, maka beliau SAW selalu kreatif dengan berusaha mencoba berbagai inovasi baru dalam dakwahnya. Terobosan-terobosan yang beliau SAW lakukan ini nampak dari pemilihan berbagai tempat beserta alasan-alasan yang relevan yang melatar-belakanginya.
4. Bahwa sebagai pemimpin (qiyadah), maka beliau SAW sangat memikirkan masyarakatnya, segala cara beliau SAW usahakan agar para sahabatnya tidak disiksa dan diprovokasi oleh pihak lain, beliau SAW pula yang paling akhir keluar dari Makkah setelah semua sahabatnya selamat.
5. Bahwa boleh bekerjasama dengan seorang fajir atau non muslim sekalipun, jika untuk kemaslahatan dakwah yang jelas, berdasarkan peristiwa Muth’im bin Ady di atas, jika sepanjang bukan ber-muwalah (memberikan loyalitas)[22] pada mereka, melainkan mengadu orang Fajir dengan orang Fajir yang lainnya atau orang zalim dengan orang zalim lainnya[23].
6. Lalu masih bolehkah Hijrah (secara makani) pada saat ini? Bukankah Ada hadits yang berbunyi: La hijrata ba’dal fath (tidak ada lagi hijhrah setelah Fathu Makkah)[24]. Maka Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa hal tersebut adalah dalam kondisi normal, namun hukum tersebut bisa berubah menjadi wajib, mubah ataupun haram tergantung illat (sebab)-nya[25].


___
Catatan Kaki:
[1] Diolah dari makalah ceramah Shubuh (talkshow) saya di mesjid Al-Istiqamah Balikpapan, Ahad 4-Muharram-1429
[2] Ash-Shihhah fil Lughah, II/243
[3] Lisanul ‘Arab, V/250; Tajul ‘Arus, I/3623
[4] Al-Qamus Al-Muhith, I/637
[5] Fathul Bari’, VII/187
[6] Sirah Ibni Hisyam, I/133
[7] Sirah Nabawiyyah, hal. 119
[8] Thabaqat Ibni Ishaq, I/196
[9] Sirah Nabawiyyah Al-Buthy, hal. 123
[10] Sirah Ibni Hisyam, I/381
[11] Shahih Bukhari, VI/73
[12] Ibid, dan lih. Juga Thabaqat Ibni Ishaq, I/196
[13] Shahih Muslim, II/632
[14] Fathul Bari’, VII/260
[15] Difa’ Hadits An-Nabawi, oleh Syaikh Albani
[16] Fathul Bari’, VII.211; Zadul Ma’ad, III/551; Syarhul Mawahib Liz Zarqaniy, I/359-360
[17] Syaikh Albani men-dha’if-kannya, lih. Adh-Dha’ifah, III/339
[18] Fathul Bari’, VII/249
[19] HR Al-Hakim, III/8 dengan sanad-hasan, Ibnu Hajar juga men-shahih-kannya lih. Fathul Bari’, VII/238
[20] QS At-Taubah, 9/36
[21] Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, XXX/356-360
[22] Sehingga ayat yang tepat dalam pembahasan ini, bukan QS Al-Kahfi (18/51) tetapi QS Al-An’am (6/129)
[23] Al-Muhalla, Ibnu Hazm, XII/523-525
[24] HR Bukhari, X/174 no. 2783; dan HR Muslim XII/334 no. 4938
[25] Tafsir Al-Qurthubi, V/35; lih. juga Ibn Arabi dalam Ahkamul Qur’an, II/887

Senin, 20 Desember 2010

Kiamat

Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata: Bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya akan datang seorang lelaki besar gemuk pada hari kiamat yang berat amalnya di sisi Allah tidak seberat sayap seekor nyamuk sekalipun. Bacalah oleh kalian: Maka Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4991)
Hadis riwayat Abdullah bin Masud, ia berkata: Seorang ulama Yahudi datang kepada Nabi dan berkata: Hai Muhammad atau hai Abul Qasim! Pada hari kiamat, Allah menggenggam langit dengan satu jari tangan, bumi dengan satu jari, gunung dan pepohonan dengan satu jari, air dan tanah dengan satu jari, begitu pula semua makhluk yang lain dengan satu jari. Kemudian Dia menggoyangkan mereka semua sambil berfirman: Akulah Raja, Akulah Raja! Rasulullah tertawa kagum mendengar perkataan orang alim itu. Beliau membenarkan keterangan orang itu, kemudian membacakan ayat: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (Shahih Muslim No.4992)
Hadis riwayat Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Taala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No.4995)